What's On

Press Release

Mario Blanco
Membawa Buah, Bunga dan Binatang ke Jakarta


Koran Bali, 4 Mei 2003

"Like Father Like Son'. Begitulah pepatah yang rupanya berlaku juga bagi Mario Blanco. Nama Mario Blanco memang tidak bisa dilepaskan dari sosok Don Antonio Blanco.

Sebagai putra kedua maestro seni lukis tersebut, ia merasa bangga, meski dalam karya seni, ia sama sekali tidak mau namanya dikaitkan dengan ketenaran sang ayah yang memiliki talenta pelukis kondang dengan obyek-obyek wanita telanjang itu.

Kehidupan Mario memang tidak bisa dilepaskan dari seni lukis dan seni rupa. Keseharian Mario bergelut dengan kanvas dan kuas di tempat tinggalnya the Blanco Renaissance Museum Ubud Bali.

Tak heran pada umur tujuh tahun, ia sudah mampu menggegerkan dunia seni dengan menggelar pameran tunggal. Meskipun demikian, ia menolak jika dikatakan mendompleng nama besar ayahnya.

Dalam mengikuti jejak ayahnya, Mario mengaku sama sekali tidak pernah diarahkan oleh ayahnya. Semasa kecilnya ia juga dilarang menyaksikan ayahnya melukis, apalagi diajari melukis. Bahkan ayahnya menginginkan dia untuk menjadi seorang ekonomi, dokter, hakim atau profesi lainnya selain pelukis.

Namun takdir telah membawanya mengikuti arus keseniman dinasti Blanco. Meski sama-sama seniman, tak berarti Mario Blanco menjadi prototipe ayahnya. Medan boleh sama, namun karakter karya dan kepribadian berbeda.

Lalu mengapa ia juga suka melukis dengan objek telanjang. Terlepas dari kebesaran nama Don Antonio Blanco yang amat terkenal hingga ke manca negara, mana Mario Blanco kini juga mulai lelaki yang lahir pada 4 Juli 1962 itu, dengan bersemangat menjelaskan, sejak kecil ia sudah tertarik dengan melukis. Dimatanya kegiatan ini sangat menarik dan mempesona, apalagi setiap hari ia mengamati ayahnya bekerja di studio dan menghasilkan karya-karya yang monumental.
Tak pelak, diakuinya, berawal dari proses melihat itu, kecintaannya dalam dunia melukis langsung tumbuh.

Aliran Impressionis

Tak dapat dihindarkan, jiwa seni Mario di pengaruhi pada dua sifat keaslian. Ayahnya yang dari Spanyol memperkenalkan pada teknik-teknik seni Eropa, dan ibunya Ni Rondji, penari Bali terkenal di masanya, memberikan perasaan yang murni pada dirinya.

Mario, tentu saja mengembangkan keintensifannya melalui lukisan-lukisannya yang mengekpresikan kenyataan pilihannya untuk memilih aliran romantik impressionis. Menjadi anak dari "Fabolous Blanco", Mario menghadapi tantangan yang kuat tetapi kita bisa melihat dari hasil karya seninya yang menunjukkan bahwa ia berusaha untuk membuat jarak dengan ayahnya.

Bakat murninya terekpresi dan mengerjakan dengan teliti pemandangan yag mana memunculkan kebanggaannya pada visinya sendiri untuk atmosfer Bali.

Tidak heran jika geloranya menjadi menyala-nyala terhadap dunia melukis, sehingga dalam usia belia, Mario sudah mampu menunjukkan karyanya. Umur tujuh tahun (1969), ia sudah mengadakan pameran tunggal di Grand Bali Beach Sanur tahun 1992 serta pameran tunggal di Gedung Bakrie Kuningan Jakarta.

Setelah sempat absen lama dan tidak menggelar pameran, di tahun 1985, Mario kembali mengadakan pameran bersama di Hotel Oberoi Seminyak Kuta, dan setahun sesudahnya ia turut berpameran bersama para pelukis muda Asia di Singapore Nasional Museum, dan sempat beberapa kali pameran di Bali dan Jakarta.

Selanjutnya pada tanggal 8-10 Mei mendatang di Jakarta Design Center, ia kembali akan menggelar karya-karyanya bersama dua pelukis dunia terkenal lainnya.

Menurut rencana, pameran akan dibuka oleh Bp.Oei Hong Djien, salah seorang kritikus dan kolektor besar di Indonesia.

Semasa hidupnya, Don Antonio Blanco memang terkenal dengan lukisan-lukisannya yang berobyek kehidupan dan kemolekan tubuh wanita dalam berbagai ekpresi dan berada di aliran erotik surealis, sementara Mario, yang mengaku kalau karya-karyanya beraliran impressionesme, lebih menjadikan bunga, buah, binatang dan benda-benda sederhana sebagai sasaran objek lukisannya.

Objek-objek itu juga ditampilkan secara 'telanjang' karena terlihat apa adanya di atas kanvas.

Diakuinya sendiri, bahwa idenya dalam melukis merupakan pengendapan bakatnya, karena sewaktu masih muda dia sering mengikuti rally-rally mobil, dan dengan sendirinya dia melihat berbagai pemandangan alam yang menawan.

Mario yang beragama Hindu, merasa lebih tertarik untuk mengangkat tema bunga dan buah dalam tema lukisannya, karena di dalam agama Hindu pada khususnya maupun dalam agama-agama lainnya, mereka menggunakan keduanya (buah, bunga dan alat-alat penyimpan air suci seperti ketel, sangku dll) sebagai media penghubung dalam menjalankan ibadahnya dan saat berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Esa. Alasan lain yang menurutnya sampai saat ini adalah bahwa buah dan bunga, masih dianggap remeh oleh sebagian orang.

Hal itulah yang mungkin mendorongnya dan lebih tertarik dalam melukis sesuatu yang remeh dan kurang diperhatikan. Dalam konteks berkarya, buah, bunga dan alat-alat suci merupakan objek dan sumber inspirasi yang tak pernah kering bagi Mario.

Piguranya Keunikan karya-karya Mario sebenarnya tidak hanya terletak pada "ketelanjangan" buah atau bunga yang digoreskannya di atas kanvas, namun lebih dari itu, ia juga menyajikan paduan cantik antara lukisan dengan piguranya, misalnya ketika ia melukis tentang empat ekor monyet, pigura lukisan itu berbentuk unik dengan buah pisang disekelilingnya.

Mengapa buah pisang ? menurutnya monyet terkenal karena dengan buah pisangnya.

Tidak cukup berhenti disitu saja. Ia juga mendandani selendang hingga berfungsi sebagai asesories. Sehingga kalau kita memakai baju, maka akan terlihat bertambah menarik. Selain itu, selendang akan mempermanis lukisan sehingga keelokan lukisan akan tertera karena timbulnya gradasi warna yang harmonis.
Di masa mendatang, Mario berobsesi akan mempunyai lebih banyak waktu untuk melukis dan menghasilkan karya-karya yang berkualitas dan sesempurna mungkin, sebagaimana ayahnya. Sebab dimasa hayatnya Don Antonio Blanco tidak pernah meninggalkan karya-karya yang tergolong afkir.

Selama ini, kesibukannya sebagai Direktur Utama Museum Renaissance Blanco, telah banyak menyita waktunya sehingga ia jarang memiliki waktu luang. Padahal kalau sedang "mood", ia bisa menyelesaikan lukisannya hanya dalam tempo dua jam.

Namun karena untuk saat ini banyak waktunya digunakan untuk mengurusi museum peninggalan ayahnya, sehingga tak jarang ia berminggu-minggu tidak menyentuh kanvas dan cat.

Bagi Mario, museum itu bukan sekedar kenang-kenangan dari ayahnya belaka. Museum yang dibangun sejak 28 Desember 1998 itu, dinilainya memiliki keistimewaan yang sukar dicari bandingnya. Bukan hanya pada keunikan bangunan yang menggabungkan unsur barat dan timur, namun juga hampir tiap bangunan dari museum itu memiliki makna tersendiri.

Yang paling menarik adalah logo museum yang terbuat dari marmer hijau Italia setinggi 15 meter yang terletak didepan tangga masuk museum. Ide pembuatan logo itu berawal dari melipatgandakan tanda tangan Don Antonio Blanco yang tertulis dengan tinta basah secara vertikal.

MURI

Atas dasar keunikan tersebut, pada tanggal 9 Maret 2003 lalu, Museum Rekor Indonesia (MURI), telah memberikan penghargaan kepada Museum Renaissance Blanco untuk kategori pembuat replika tanda tangan terbesar dan tertinggi (15 meter) di Indonesia.

Menurut Mario, waktu merencanakan dulu, Don Antonio Blanco tidak memikirkan akan diberikan penghargaan oleh MURI atau lainnya. Dasar pendekatan filosofi mengapa logo dibuat sebesar 15 meter, adalah memang Antonio dilahirkan pada tanggal 15 September. Jadi angka 15 disini, melambangkan tanggal kelahirannya. Masih banyak obsesi-obsesi Mario yang lain, terutama untuk menyumbangkan misi dan aspirasinya bagi dunia budaya dan seni lukis Indonesia.g



Return To Wahts On Page