What's On
Press Release
Mario BlancoMenyiasati Malu
Koran Bali, 4 Mei 2003
Don Antonio Blanco pelukis terkenal yang akhirnya memilih menghabiskan sisa hidupnya ditepi Campuhan Ubud, kini muncul pelukis muda berbakat sebagai penerus darah Blanco. Pelukis yang sarat dengan kepiawaian berkesenian ini dipanggil akrab dengan sebutan Mario Blanco. Anak kedua almarhum Don Antonio Blanco yang cenderung menekuni dunia seni lukis ini, menghiasi hari-harinya dengan aktivitas melukis.
Sikap serta kesungguhan Mario Blanco di jalur seni lukis ini rupanya sudah menunjukkan jalan terang untuk menggantikan dinasti Blanco. Sebenarnya melukis bukan suatu kebetulan bagi anak kedua dari empat bersaudara ini. Sejak kecil ia sudah melukis, bahkan beberapa kali sempat melakukan pameran dengan memajang sejumlah karya lukisnya. Kehausan untuk berkarya memang tak mampu dibendungnya. Berkaitan dengan itulah, tanggal 8-10 Mei ini ia berencana menggeber sejumlah karyanya dalam pameran bersama dua pelukis terkenal lainnnya bertempat di Jakarta Design Center di Jakarta.
Mario, orang berdarah Eropa ini memang mentik dibesarkan alam Bali. Lahir di Desa Taman Ubud 4 Juli 1962, menyelesaikan Program Seni Rupa dan Diploma (PSSRD) Unud tahun 1987. Ketika masih kecil, Presiden Bung Karno pernah meminta agar Blanco Yunior (Mario) lebih memperlihatkan karya lukisannya. Pernah mewakili Indonesia ke Singapura dalam acara Youth Asean Painter, dan juga tahun lalu berpameran di Singapura.
Ketika ayahnya masih hidup, ayah dua bocah perempuan dan seorang lelaki ini merasa malu tampil dihadapan publik sebagai pelukis. Kenapa ? "Nanti dikira numpang beken di balik kesohoran nama papi", ujarnya tentang masa lalunya yang merasa khawatir tudingan orang terhadap maestro Don Antonio Blanco. Sebetulnya gaya lukisan Mario tidak jauh berbeda dengan aliran yang digeluti orang tuanya, Don Antonio Blanco. Cuma, kalau Mario memvisualisasikan alam benda, almarhum Don Antonio Blanco justru menukik pada alam figur, yaitu memvisualkan wanita.
Mengungkap masa lalunya seiring dengan keengganannya untuk tampil dalam seni lukis, Mario menyiasati dengan aktivitasnya di dunia otomotif. Otomotif yang diganderunginya saat itu, merupakan bukti pergaulannya dengan rekan seusianya, di samping bidang otomotif itu telah menjadi bagian dari keganderungan pada dunia hobi.g