What's On
Press Release
Mario BlancoDari Seni Lukis hingga Dangdut
Koran Bali, 1 Mei 2003
Kegiatan berkesenian harus terus digalakkan. Demikian yang terlontar dari pelukis muda potensial, Drs Mario Blanco yang siap menggelar karyanya di Jakarta Design Centre, 9-10 Mei mendatang. Harus diakui, banyak peristiwa yang akhirnya menghujam hingga menohok pariwisata ke tingkat kritis, mulai dari kasus bob Bali, invasi AS ke Iran, wabah Severe Acute Respirotary Syndrome (SARS), dan peristiwa terakhir peledakan bom di Bandara Soekarno-Hatta. Kekhawatiran itu masih semburat di wajah anak kedua pelukis maestro Don Antonio Blanco (alm). namun, lewat kesenian, Mario Blanco berharap bisa damai, tenang, dan nyaman berada dimanapun. Dampaknya, siapa pun akhirnya merasa damai berada dimana pun.
"Bukan lantaran sebagai pelukis, namun atas dasar seni untuk semua bangsa. Maka, sudah selayaknya kegiatan seni dan budaya terus ditingkatkan atau dimaksimalkan," ujar Mario Blanco.
Pengelola The Blanco Renaissance Museum dan Mario Blanco's Gallery ini mengakui belakangan ini perhatian orang terhadap seni kian meningkat, "Lagu dangdutpun tampaknya kian berkembang dan mendapat tempat khusus di berbagai televisi di Indonesia, meski ada sikap pro dan kontra soal goyang ngebor Inul Daratista," bebernya. Ditambahkan Mario Blanco, dengan seni orang bisa memperoleh ketenangan karena seni itu mengandung muatan perdamaian. "Saya yakin, tak satu pun seniman menginginkan situasi seperti sekarang ini yang kacau balau dan sangat memprihatinkan," tambah ayah tiga anak ini. Kaum politikus juga, lanjutnya, semestinya tidak hanya mementingkan soal politik. "Nasib seniman perlu diperjuangkan, dan layak berpegang pada konsep Tri Hita Karana yakni menjalin hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungannya," uraianya. Berkarya pun, Mario Blanco mengaku tak ingin lepas dari Konsep Tri Hita Karana.
Disinggung soal bakatnya melukis, Mario Blanco mengaku tak pernah belajar dari siapapun, termasuk juga tidak belajar dari ayahnya yang sangat populer sekaligus seniman yang dikagumi. "Pengalaman saya adalah guru. Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah memberi saya tugas," terangnya. Alasan tidak mengakui ayahnya sebagai guru ? "Ketika masih kuliah, saya mempelihatkan lukisan, dia hanya bilang bagus. Dia tidak mau mengajar kepada siapapun, "ujarnya. Alasan almarhum, kalau sampai ia mengajarkan anaknya, nanti ia "diperkosa" menjadi Don Antonio Blanco dan bukan Mario Blanco. Almarhum pernah menyarankan, sebagai pelukis hendaknya bisa mengapresiasikan seorang maestro, apa saja bisa ditangkap. g