What's On
Press Release
Mario BlancoLukisan Objek Telanjang
Bali Post, 1 Mei 2003
"Like father like son". Begitu kata pepatah yang rupanya berlaku juga bagi Mario Blanco. Nama Mario Blanco memang tidak bisa dilepaskan dari Don Antonio Blanco. Sebagai putra kedua maestro seni lukis itu, ia amat beruntung turut "kecipratan" talenta pelukis yang kondang dengan objek-objek wanita telanjang itu. Kehidupannya memang tidak bisa dilepaskan dari seni lukis dan seni rupa. Kesehariannya bergelut dengan kanvas dan kuas di tempat tinggalnya, The Blanco Tenaissance Museum, Ubud, Bali.
Ditemui di Museum Blanco, Rabu (30/4) kemarin, Mario mengatakan, ayahnya menginginkan dirinya menjadi seorang ekonom, dokter, hakim atau profesi lainnya. "Jangan jadi pelukis," kata Mario Blanco menirukan ucapan bapaknya. Namun takdir telah membawanya mengikuti arus keseniman Dinasti Blanco. Meski sama-sama seniman, tak berarti Mario Blanco menjadi prototipe ayahnya. Medan boleh sama, namun karakter dan karya kepribadian berbeda. Lalu mengapa ia juga suka melukis dengan objek telanjang?
Terlepas dari kebesaran nama Don Antonio Blanco yang amat terkenal hingga ke manca negara, nama Mario Blanco kini juga mulai diperbincangkan dalam kancah jajaran pelukis berbakat. Lelaki yang lahir 4 Juli 1962 itu dengan bersemangat menjelaskan sejak kecil sudah tertarik dengan dunia melukis langsung tumbuh.
Tak dapat dihindarkan jiwa seni Mario dipengaruhi pada sifat keaslian. Ayahnya yang dari Spanyol memperkenalkan pada teknik-teknik seni Eropa, dan ibunya Ni Rondji, penari Bali terkenal di masanya, memberikan perasaan seni yang murni pada dirinya. Mario, tentu saja mengembangkan keintensifan ini melalui lukisan-lukisannya yang mengekpresikan kenyataan pilihannya. Memilik aliran romantik impresionis.
Menjadi anak dari "Fabolous Blanco", Mario menghadapi tantangan yang kuat. Tetapi kita bisa melihat dari hasil karya seninya yang menunjukkan bahwa dia berusaha untuk membuat jarak dengan ayahnya. Bakat murninya tereskpresi dan mengerjakan dengan teliti pemandangan yang mana memunculkan kebanggaanya pada visinya sendiri untuk atmosfer Bali.
Umur tujuh tahun, ia sudah mengadakan pameran tunggal di Grand Bali Beach, Sanur, tahun 1992, pameran tunggal di Gedung Bakrie, Kuningan, Jakarta. Setelah sempat absen lama dan tidak menggelar pameran, di tahun 1985, Mario mengadakan pameran bersama di Hotel Oberoi, Seminyak. Setahun sesudahnya ia kembali turut berpameran bersama para pelukis muda Asia di Singapore Nasional Museum-Singapura. Dan sempat beberapa kali pameran di Bali dan di Jakarta. Selanjutnya pada 8 - 10 Mei mendatang di Jakarta Design Center, Jakarta ia kembali akan menggelar karya-karyanya bersama dua pelukis terkenal lainnya yang rencananya pameran akan dibuka oleh Bpk.Oei Hong djien, salah seorang kritikus dan kolektor besar di Indonesia.
Mario yang beragama Hindu, merasa lebih tertarik untuk mengangkat tema buah dan bunga dalam tema lukisannya. Karena dalam agama Hindu pada khususnya maupun dalam agama-agama lainnya, menggunakan keduanya (buah, bunga dan alat-alat penyimpan air suci, seperti; ketel, sangku dll). Sebagai media penghubung untuk menjalankan ibadahnya dan berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Esa. g