What's On
Press Release
Mario Blanco Ingin Lepas dari Bayang-bayang Don Antonio BlancoKultur, 12 Mei 2003
Ada perasaan bangga dan kagum yang amat sangat tersirat dari nada suara Mario Blanco saat membicarakan almarhum ayahnya, seorang pelukis besar kelahiran Spanyol, Don Antonio Blanco. Anak kedua Blanco, satu-satunya lelaki, yang dilahirkan dari rahim seniman tari Bali Ni Rondji ini, menjadi satu-satunya penerus bakat ayahnya. Mario dengan kesungguhan dan kesadaran penuh akhirnya memilih menjadi pelukis.
Pilihan yang sangat sulit, sebab tidak mudah berada di bawah bayang-bayang nama besar sang ayah. Bahkan, Mario seperti tidak punya identitas sendiri-sendiri sampai-sampai panitia acara pameran lukisan “The Impressionist” yang digelar 8-10 Mei di Jakarta Design Centre (JDC) menulis lead undangan dengan kata-kata seperti berikut.
“Menyandang nama Blanco, memang bukanlah hal yang mudah bagi Mario Blanco, putra kedua pelukis Don Antonio Blanco. Meskipun sama-sama seniman tak berarti Mario Blanco menjadi prototipe ayahnya. Medan boleh sama namun karakter karya dan kepribadian jauh berbeda”.
Undangan itu menjual nama Don Antonio Blanco untuk memperkenalkan Mario. Padahal pameran ini menampilkan tiga pelukis, Paul Husner dari Belanda dan Pupuk Dwi Purnomo, seniman Yogyakarta.
Mario adalah Mario, yang merasa harus memanfakan sebaik-baiknya bakat melukis dari Sang Hyang Widhi dan ditakdirkan untuk menjadi penerus generasi Blanco yang seniman itu.
“Sejak kecil saya suka melukis, walaupun tidak pernah diperbolehkan melihat papa yang sedang melukis, saya bisa melukis. Setiap saya selesai membuat sesuatu, saya langsung menunjukkannya kepada papa dan papa pasti bilang, lukisan saya bagus. Ia tidak pernah mengajarkan kepada saya, bagaimana menarik garis, mencampur warna dan hal-hal teknis lainnya”, kenang Mario haru.
Di usia dewasa, Mario baru mengerti mengapa ayahnya pelit membagi ilmu. “Papa pasti tahu bakat saya dan ia tidak ingin memperkosa gaya saya dan menjadikan saya prototipenya. Papa ingin saya menjadi diri sendiri,” katanya.
Di usia tujuh tahun Mario sudah bisa membuat pameran tunggal di Grand Bali Beach, Sanur. Lalu di usia remaja meski tetap berkarya, Mario berniat benar memenuhi keinginan ayahnya untuk menjadi ekonom, hakim atau dokter.
Pria kelahiran Ubud, 4 Juli 1962 ini berusaha keras untuk meraih cita-cita ayahnya itu, tetapi dia malah terdampar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Udayana Bali. Diam-diam ia sekolah untuk belajar melukis lebih dalam lagi.
Terpaksa bohong
“Mario sering cerita, dulu waktu ia kuliah, ayahnya sering bertanya, kamu bawa-bawa kanvas untuk apa ? Mario selalu mencari alasan karena ia tidak ingin papa kecewa sebab ia masuk fakultas seni. Belakangan papa tahu juga apa yang dilakukan anaknya, dan bisa menerima,” ungkap I Gusti Wimas Hendrayani, istri Mario.
Mario pun belajar melukis seperti air, mengalir. Mengikuti proses alami seperti yang dijalankan pelukis lain. Belajar teknik melukis pun dimulainya dengan membuat lukisan model telanjang, tetapi Mario tidak menekuni lukisan manusia telanjang seperti yang dilakukan ayahnya. Ia lebih suka menggambar bunga, buah, binatang dan benda-benda mati lainnya yang memiliki hubungan dengan upacara keagamaan agama yang dianutnya, Hindu.
“Saya punya lukisan perempuan telanjang juga, seperti papa, tetapi lukisan itu hanya karya pembelajaran saya, disimpan untuk saya saja,” katanya.
Apa yang dialami Mario diwaktu kecil ia terapkan juga untuk Fortunia Mendietta Blanco (7,5) putri kedua Mario yang juga suka melukis. Mario tidak pernah mengajarkan kepada Nia bagaimana cara melukis, bahkan Mario mengajak Nia belajar di tempat lain. “Ia tidak ingin Nia jadi seperti dirinya,” ungkap Wimas.
Bingkai Unik
Lalu apa keunikan seorang Mario, yang membedakan ia dengan ayahnya ? Mario membuat lukisan dengan paduan bingkai unik dan sampiran selendang dibingkai uniknya itu. Paduan tiga materi, kanvas, kayu dan kain membuat lukisan bapak tiga anak itu jauh lebih hidup.
Lukisan berjudul The Frog misalnya, lukisan itu menggambarkan seekor katak hijau yang sedang “melamun”. Lalu ayah tiga anak ini membuat bingkai berhiaskan katak hijau juga yang gayanya seperti siap melompat masuk kanvas.
“Coba lihat dari jauh. Mereka berdua seperti hidup dan saling bicara,” kata Mario yang memaknai lukisan itu sebagai karya arti sahabat, “Mau apa makhluk hidup tanpa teman?”
Juga ketika Mario melukis tentang buah atau bunga, maka pigura yang menghiasinya berwujud menyerupai tekstur buah atau bunga.
Karena paduan bingkai unik, lukisan dan selendang itu, kamis (8/5) lalu Mario mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai seniman dengan karya paling unik.
“Paduan bingkai dan lukisan seperti yang dibuat Mario ini sangat unik dan baru satu-satunya ada,” kata Paulus Pangka dari MURI.
Maka Mario selalu ingat nasihat ayahnya. “Kata papa, manusia akan menjadi tua kalau tidak berkarya. Saya ingin berkarya terus,” walaupun ia berbeda dengan Don Antonio Blanco, namun bayang-bayang sukses sang ayah masih saja melekat. g