What's On

Press Release

Tak Ada Beban Dibanding-bandingkan dengan Sang Ayah

Denpost, 1 Mei 2003

Menyandang nama besar orang tua, kerap menjadi beban bagi seseorang. Apalagi kalau kemudian antara orang tua dan anak-anak sering dibanding-bandingkan. Hal itu juga dialami Mario Blanco. Ketika ia juga menekuni seni lukis seperti sang ayah, Don Antonio Blanco (alm) tak sedikit yang bertanya-tanya, apakah ia akan mengikuti atau meneruskan gaya sang ayah.

Kini pelan-pelan, Mario mulai menepis kesan mengekor kebesaran sang ayah. Walaupun melihat lukisan Don Antonio Blanco dan Mario Blanco, ada satu persamaan yang sangat mendasar. Garis dan teknik goresannya sama. Namun perbedaan yang mendasar, jika Don Antonio Blanco lebih banyak melukis objek manusia dalam hal ini wanita, Mario lebih cenderung melukis benda-benda yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan kini Mario mencoba mengembangkan ciri lain dengan memakai bingkai unik yang dibuat sebentuk dengan objek lukisan. Ketika melukis ketel misalnya lukisan itu kemudian dibingkai dengan kayu yang dipahat berbentuk ketel. Atau ketika melukis buah labu, bingkainya pun mengikuti serupa labu. Bingkai tersebut dikerjakan langsung di studio Blanco oleh tenaga kerja setempat.

“Dengan demikian saya bisa berkomunikasi langsung. Selama ini seni lukis kita kesannya lebih tinggi nilai ekonominya dari pada seni pahat atau patung. Nah, bingkai itu sendiri saya anggap sebagai satu karya seni. Jadi dengan cara seperti ini saya menggabungkan dua seni sekaligus. Seni lukis dan seni pahat atau patung. Inilah yang akan saya kembangkan ke depan,” tutur Mario Blanco kepada DenPost belum lama ini.

Dua Blanco
Dalam melukis, Mario sendiri tidak memungkiri kalau ada upaya meneruskan gaya sang ayah, walaupun tidak sepenuhnya. Dalam berkarya ia lebih memilih untuk menggabungkan filosofi, nilai-nilai yang diwariskan Don Antonio Blanco dengan semangatnya untuk berkreativitas sendiri. Menurutnya, bagaimana pun sedikit banyak pasti ada pengaruh dari orang tuanya. “Saya dilahirkan ke dunia karena adanya ayah dan ibu. Sehingga dalam saya berkarya maupun benstuk saya sendiri, pasti ada ciri atau kesan Blanco. Kalau tidak, malah bisa dipertanyakan, apakah saya anak asli atau bukan. Jadi Blanconya pasti ada pada diri saya, nah, Marionya juga harus muncul,” ujarnya memberi perbandingan.

Mario pun setuju kalau ada dua Blanco, tetapi berbeda. Walau demikian ia pun tidak berani mengatakan untuk berupaya menyaingi nama besar sang ayah, Don Antonio Blanco. Justru ia mengaku baru sekarang bisa memahami, mengapa dulu semasa hidup, Don Antonio Blanco tidak pernah mengajarinya teknik melukis. Saat melukis, Don Antonio Blanco tidak boleh dilihat anak-anaknya. Padahal beberapa kali Mario menunjukkan karyanya untuk dikomentari atau dikritik. Don Antonio Blanco hanya mengatakan, “Iya, bagus”.

Saya baru paham sekarang karena dia tidak mau memperkosa saya. Dia tidak mau saya seperti dia. Don Antonio Blanco memang bukan guru yang baik, kalau mau belajar melukis, belajarlah pada guru lukis. Papa ingin, setelah dia meninggal, museum ini yang menampung karya-karyanya bisa menjadi sumber inspirasi bagi siapa saja. Di sini orang bisa belajar dari filosofi hidupnya, belajar dari sejarahnya, juga belajar dari karya-karyanya. Dengan demikian akan menghasilkan pelukis yang punya kreativitas tinggi,” urai Mario Blanco.

Menurutnya, memang ada pelukis yang mengajarkan apa yang ia bisa, dan itu bagus. Namun Don Antonio Blanco punya pikiran lain, lebih mementingkan kualitas. “Kalau saya diajar oleh papa, saya pasti akan merasa terperkosa, duduk saja mengikuti yang diajarkan, saya tida berani melakukan terobosan atau mencari sesuatu yang baru. Kalau saja dari dulu saya melukis sama seperti papa, mungkin saya tidak akan mau berubah lagi,” tambah Mario.

Meskipun demikian, sekali waktu saat duduk bersama, Don Antonio Blanco menyempatkan juga diskusi atau menyinggung soal lukisan. Misalnya saja ia memberi saran, kalau mau melukis style life, bendanya harus ada. Bisa saja melukis berdasarkan imajinasi, tetapi hasilnya tidak akan maksimal, si pelukis bisa menangkap “roh” benda itu sendiri.

Tanpa Beban
Dengan tidak pernah diajar secara langsung oleh sang ayah, juga tidak ada keinginan untuk menjadi seperti sang ayah, Mario mengaku kini tidak ada beban. Kalau ada yang menilai karya Don Antonio Blanco, silahkan. Kalau ada yang mengatakan tidak sama, ya itulah dia sendiri.

Bagi Mario tidak mungkin mengalahkan seorang maestro, walau bisa saja orang mencari kemiripannya. Drs. Oei Hong Djien misalnya, seorang kurator lukisan yang intens mengamati perkembangan seni lukisan di Indonesia, pernah menyampaikan kesannya soal karya-karya Mario. “Karya-karya Mario memiliki teknik yang berkualitas, menunjukkan perasaan yang sangat halus juga kreativitas yang tinggi. Saya berani mengatakan sejumlah karyanya punya kemiripan dengan sang ayah. Saya sendiri yakin Mario akan terus berproses dan penjadi pelukis yang hebat seperti ayahnya,” demikian antara lain komentar yang pernah disampaikan Oei Hong Djien.

Karena tertarik akan karya Mario itu, Oei Hong Djien kemudian mengajak pelukis kelahiran Ubud, 4 Juli 1962 itu untuk pameran bersama di Jakarta Design Centre, 8-10 Mei mendatang. Dalam pameran itu, Mario menampilkan sekitar 20 karya yang dihasilkan sekitar 20 karya yang dihasilkannya dalam setahun terakhir. Selain Mario Blanco, dua pelukis lain yang bergabung di pemaran itu, Paul Husner dan Pupuk Dp. g


Return To Wahts On Page