What's On
Press Release
Bunga dan Buah sama Erotiknyadengan Wajah Cantik Wanita Telanjang
Nusa, 16 Maret 2003
Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Pepatah tersebut rupanya berlaku bagi Mario Blanco, 41. Mengingat namanya, emang tak dapat dipisahkan dari almarhum Don Antonio Blanco. Dia adalah anak kedua dari Maestro pelukis asal Spanyol yang menetap di Bali.
Ya, Mario Blanco seperti pepatah tersebut di atas, kini kian serius mengikuti jejak ayahnya. Padahal ketika ayahnya masih hidup. Mario selalu diwanti-wanti agar jadi dokter, atau ahli ekonomi, atau ahli hukum. Tapi jalan hidup menentukan lain, mantan raja jalanan ini menemukan dunia sendiri, yang sama dengan jalan hidup ayahnya.
Kehidupan Mario tidak dapat dilepaskan dari seni lukis dan perupa. Anak kedua pasangan Don Antonio Blanco dan Ni Ronji Blanco ini sehari-hari bergelut dengan kanvas dan kuas ditempat tinggalnya, di The Blanco Renaissance Museum di Campuhan Ubud, Gianyar.
“Sebelumnya, Bapak (Don Antonio Blanco), red) selalu mengharapkan saya masuk sekolah dokter, ekonomi atau hukum,” ujar Mario Blanco.
“Hidup mungkin sudah punya jalan dan arahnya sendiri, sehingga tidak bisa dipaksa atau diarah-arahkan,” katanya.
Tak jelas apa alasan almarhum Don Antonio Blanco meminta Mario masuk ke sekolah kedokteran, ekonomi atau hukum. Yang jelas bagitu tamat SMA pada tahun 1982, Mario yang saat itu akan memasuki perguruan tinggi disarankan ayahnya memasuki salah satu fakultas tersebut. Mario sendiri tak tahu alasan dibalik saran almarhum ayahnya.
Boleh jadi, Don Antonio Blanco menginginkan seorang Mario Blanco sebagai ekonom, dokter atau hakim, pengacara atau yang lainnya. “saya tidak tahu,’ papar suami I Gusti AA. Wimas Hendrayani ini.
Dalam mengikuti jejak ayahnya, Mario mengaku sama sekali tidak pernah diarahkan oleh ayahnya. Bahkan ia mengaku tidak pernah diarahkan apalagi diajari melukis. Namun dasar takdir, kesenimanan Blanco harus tetap mengalir. Mario pun membangkang ayahnya. Mario malah “terdampar” di PSRD (Program Seni Rupa dan Desain) Universitas Udayana (Unud).
Namun Mario memiliki pengalaman yaang tidak pernah dilupakan ketika mengawali menjadi mahasiswa di PRSD Unud. Ketika dosen PSRD memberi tugas membuat “sket”. Namun para mahasiswa PSRD banyak diantaranya jebolan SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) menunggu aksi Mario membuat sket. Diyakini ‘ulah’ teman-temannya yang menunggui dirinya beraksi menorehkan sket karena dirinya anak Don Antonio Blanco.
“Ini anaknya Don Antonio Blanco, pasti sketnya bagus, mungkin demikian anggapan mereka. Padahal saya sama sekali tidak punya dasar-dasar untuk itu,’ ungkap Mario.
“Diajari melukis papa saja tidak pernah,” lanjutnya. Namun bakatnya mulai tumbuh, justru karena belajar dari teman-temannya di kampus tersebut. Mario mengaku banyak belajar dari teman-temannya saat kuliah. “Kalau mau belajar melukis ayah malah meminta agar mencari guru pelukis,” ujarnya mengenang.
Menurut Mario, ayahnya baru tahu kalau dirinya masuk PRSD setelah dua setengah tahun kuliah. “Mario kamu kuliah dimana?” ujar Mario.
Mario pun menerangkan kalau dirinya masuk PSRD. Mendengar jawaban Mario, ayahnya pun kaget, namun kemudian ter-diam. “Entah apa dalam benaknya,” ujarnya. Ayahnya pun kemudian hanya menyarankan; “Kalau bekerja atau berkarya, bekerjalah dengan penuh kualitas dan sempurna.”
“Itu sikap ayah dan saya mengikutinya dalam berkarya ,” sambungnya. “Yah hidup ini rupanya memang tidak bisa dipaksa-paksa. Saya menyadari itu, biarkan hidup mengalir seperti air saja,’ ujar Mario berfilsafat, sambil menunjuk aliran air Tukad Campuhan yang sakral yang mengalir di dekat Blanco Renaissance Museum.
Meski sama-sama seniman, tak berarti Mario Blanco prototipe ayahnya. Medan boleh sama, namun karakter karya dan kepribadian berbeda. Don Antonio Blanco memilih keindahan dan kemolekan tubuh wanita sebagai objek yang dituangkan di atas kanvas, namun Mario menjadikan bunga dan buah dan benda-benda sederhana lainnya sebagai sasaran.
“Buah dan bunga terkesan sederhana. Tetapi sesungguhnya itu punya magis yang luar biasa,” ujar Mario Blanco tentang objek inspirasinya. Buah dan bunga dalam pandangan dan pemahaman Mario memang tidak sesederhana wujud fisik yang kasat mata.
“Bagi orang Hindu, buah dan bunga adalah sarana persembahan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Demikian juga agama dan kepercayaan lain yang menggunakan bunga buah sebagai hubungan dengan Tuhan dan leluhur,” ujar pelukis yang telah pameran belasan kali di Indonesia dan Singapura.
Dalam konteks berkarya buah dan bunga merupakan objek dan sumber inspirasi yang tak pernah kering bagi Mario. “Buah dan bunga sesuatu yang terlihat sepele namun saya susun (dalam karyanya) akan menjadi sesuatu yang sangat luar biasa,” ungkap Mario.
Karena kecintaan akan bunga dan buah yang sekaligus jadi sumber inspirasinya, jangan heran di dalam studionya ditemui beragam buah, ada buah kelapa, waluh (labu) dan sebagainya.
Menurut Mario Blanco, buah atau bunga menjadi karya seni rupa yang mengagumkan diatas kanvas. Sama erotiknya dengan berbagai ekspresi wajah cantik dari wanita telanjang karya almarhum Don Antonio Blanco. Buah dan bunga dalam karya-karya Mario Blanco yang live impressionis sama menawannya dengan lekuk-lekuk kemolekan tubuh wanita yang dari karya Don Antonio Blanco yang ekspresionis.
“Itulah majesti dari bunga dan buah, sederhana wujud fisiknya tetapi luar biasa makna dan manfaatnya,’ ujar Mario, yang pertama kali berpameran pada umur 7 tahun di Grand Bali Beach, Sanur.
Tak pelak lagi, meski sebelumnya tidak diarahkan mengikuti jejak ayahnya, Mario Blanco anak kedua dari 4 orang bersaudara ini menyatakan kini menjadi pelanjut dari “Dinasti Blanco”. Tak hanya dalam pengertian harfiah, tetapi dalam berkarya. Dia mengibaratkan hubungan dia dan keluarganya (ayahnya almarhum Don Antonio Blanco) layaknya sebatang bambu. Bila telah terlewati satu ruas, tentu ada ruas lanjutannya. Terus begitu.
Kini obsesinya, berkarya dengan kualitas sesempurna mungkin, sebagaimana ayahnya. Sebab semasa hayatnya, Don Antonio Blanco tak meninggalkan karya-karya yang tergolong afkir (tak jadi-red). “Ini juga untuk memenuhi wasiat ayah saya yang disampaikan lewat kawan Jepangnya,” ungkap lelaki yang kini lebih sering ke pura-pura untuk sembahyang, selain melukis di studionya.
Selain melukis, Mario Blanco kini masih menyimpan obsesinya melanjutkan film dokumenter tentang riwayat dan perjalanan kesenian ayahnya. “Film terpotong dalam adegan saya dilahirkan,’ ungkap lelaki yang doyan membanyol dan suka pakai udeng ini. Selain giat melukis dan bersembahyang, Mario juga sibuk mengurus The Blanco Renaissance Museum dan lingkungannya yang menjadi monumen dan peninggalan DonAntonio Blanco. g